Minggu, 31 Juli 2011

Konsep Dasar Perkembangan Psikologi Peserta Didik


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Konsep pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara interpendensi saling bergantung satu sama lain. Tidak bisa dipisahkan tetapi bisa dibedakan untuk memperjelas penggunaannya (Sunarto, 1999).
Perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan jika seorang individu mengalami pertumbuhan yang baik maka perkembangan akan baik pula. Pernyataan ini berbanding lurus dengan H.M. Arifin tentang perkembangan, bahwa perkembangan diprasyarati oleh adanya pertumbuhan, oleh karena itu pertumbuhan sangatlah mendukung perkembangan seseorang (Diah Puji, 2009).
Fase perkembangan individu tidak terlepas dari proses pertumbuhan individu itu sendiri. Perkembangan pribadi individu meliputi beberapa tahap atau periodisasi perkembangan, antara lain perkembangan berdasarkan analisis Biologis, perkembangan berdasarkan Didaktis, perkembangan berdasarkan psikologis.
Fase perkembangan Biologis merupakan perubahan kualitatif terhadap struktur dan fungsi-fungsi fisiologis atau pembabakan berdasarkan keadaan atau proses pertumbuhan tertentu. Fase perkembangan dedaktis dapat dibedakan menurut dua sudut tujuan, yaitu dari sudut tujuan teknis umum penyelenggara pendidikan dan dari sudut tujuan teknis khusus perlakuan pendidikan. Fase perkembangan psikologis merupakan pribadi manusia dimulai sejak masa bayi hingga masa dewasa.
Aspek aspek perkembangan individu meliputi fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan sebelum lahir dan pertumbuhan setelah lahir. Intelektual (kecerdasan) atau daya pikir merupakan kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situas baru atau lingkungan pada umumnya. Sosial, setiap individu selalu berinteraksi dengan lingkungan dan selalu memerlukan manusia lainnya. Emosi merupakan perasaan tertentu yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang lain. Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Agama merupakan kepercayaan yang dianut oleh individu.
B.     Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini penulis ingin mengetahui :
a.       Hakikat perkembangan ( perkembangan, pertumbuhan, kematangan dan perubahan ).
b.      Fase – fase perkembangan.
c.       Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan.
d.      Karakteristik PPPD anak usia SD

C.    Tujuan
Dengan memperhatikan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan masalah adalah :
a.       Untuk mengetahui hakikat perkembangan ( perkembangan, pertumbuhan, kematangan dan perubahan ).
b.      Untuk mengetahui Fase – fase perkembangan.
c.       Untuk mengetahui Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan.
d.      Untuk mengetahui Karakteristik PPPD anak usia SD.

 


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan diartikan sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik dan atau menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya belum tampak) dari organisme atau individu. Konsep pertumbuhan mempunyai makna luas, mencangkup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta aspek-aspek fisik-psikis seperti yang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan, kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan. Belajar atau pendidikan menunjukkan kepada perubahan pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secara intensional atau dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya pertambahan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan. Pertumbuhan terbatas pada perubahan-perubahan yang bersifat evolusi (menuju ke arah yang lebih sempurna). Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasikan relative lebih mudah manifestasinya karena dapat dilakukan pengamatan langsung seperti tinggi dan berat badan, tanggal dan tumbuhnya gigi dan sebagainya. Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relative sulit diidentifikasi karena kita hanya mengamati dan sampai batas tertentu.
Perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Perkembangan juga bertalian dengan beberapa konsep pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), dan belajar (learning) serta latihan (training).
Perkembangan individu dapat ditujukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat diamati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan instrument yang sesuai. Contoh perkembangan proses berpikir, kemampuan berbahasa dan lain-lain.
a.      Anak Sebagai Suatu Totalitas
Konsep anak sebagai suatu totalitas mengandung tiga pengertian, yaitu :
1.      Anak adalah makhluk hidup yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya.
Sebagai suatu totalitas, anak dipandang sebagai makhluk hidup yang utuh, yakni sebagai suatu kesatuan dari keseluruhan aspek fisik dan psikis yang terdapat dalam dirinya. Keseluruhan aspek fisik dan psikis anak tersebut tidak dapat dapat dipisahkan satu sama lain. Karena itu anak dipandang sebagai suatu individu. Dalam hal ini kita tidak akan memandang anak sebagai kumpulan organ-organ misalnya ada kepala, kaki, tangan, dan bagian tubuh yang terpisah satu sama lain.
2.      Keseluruhan aspek anak saling terjalin satu sama lain
Keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak tersebut secara terintegrasi saling terjalin dan memberikan dukungan satu sama lain. Sebagai misal, anak yang dimarahi orang tuanya bisa tidak berselera makan, anak yang sedang sakit nafsu makannya berkurang dan lain-lain. Contoh tersebut mengilustrasikan adanya keterkaitan dan perpaduan dalam proses kehidupan dan aktivitas anak. Reaksi-reaksi psikis anak selalu disertai dengan reaksi fisiknya, begitu pula sebaliknya.
3.      Anak berbeda dari orang dewasa bukan sekedar fisik, tetapi secara keseluruhan.
Anak bukan miniature orang dewasa, tetapi anak adalah anak yang dalam keseluruhan aspek dirinya bisa berbeda dengan orang dewasa, baik dalam segi fisik, cara berfikir, rasionalitas, daya pikir maupun pola pikirnya. Jadi jangan memaksa anak sesuai dengan yang kita inginkan karena anak itu juga mempunyai dunianya sendiri. Biarlah mereka menjadi diri mereka sendiri, suatu saat dengan kematangan dan pengalaman mereka akan menjadi dewasa.
b.      Perkembangan sebagai Proses Holistik dari aspek biologis, kognitif, dan psikososial.
Sesuai dengan konsep anak sebagai suati totalitas atau sebagai individu, perkembangan juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh (holistik). Artinya perkembangan terjadi tidak hanya dalam aspek tertentu, melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling terjalin satu sama lain. Secara garis besar, proses perkembangan individu dapat dikelompokkan ke dalam 3 domain, yaitu :
1.      Proses Biologis
Proses biologis atau perkembangan fisik mencangkup perubahan-perubahan dalam tubuh individu seperti pertumbuhan otak, otot, sistem syaraf, struktur tulang, hormon, organ-organ indrawi, dan sejenisnya. Perubahan dalam cara menggunakan tubuh atau keterampila motorik dan perkembangan seksual juga dikelompokkan ke dalam domain ini. Tetapi domain perkembangan ini tidak mencangkup perubahan fisik karena kecelakaan, sakit, atau peristiwa-peristiwa khusus lainnya.
2.      Proses Kognitif
Proses ini melibatkan perubahanperubahan dalam kemampuan dan pola berpikir, kemahiran bahasa, dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungannya. Aktivitas-aktivitas seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda, menyatukan beberapa kata menjadi satu kalimat, menghafal sajak atau doa, memecahkan soal-soal matematika, dan menceritakan pengalaman merefleksikan peran kognitif dalam perkembangan anak.
3.      Proses Psikososial
Proses ini melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi dan kepribadian individu serta cara yang bersangkutan berhubungan dengan orang lain.
Aspek-aspek tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya saja jika seorang anak mengalami gangguan pendengaran maka dia dapat mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa dikarenakan tidak adanya kata-kata yang dapat masuk dan dicerna di otaknya.
c.       Kematangan dan Pengalaman dalam Perkembangan Anak
Kematangan atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak kesiapan (readiness) dari suatu fungsi (psikofisis) untuk menjalankan fungsinya.Pengalaman adalah peristiwa-peristiwa yang dialami individu dalam interaksi dengan lingkungan. Kematangan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain pengalaman, pola asuh dan kesempatan yang diberikan. Secara usia anak yang berusia 7tahun harusnya memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan usia 6tahun. Namun pengalaman menjadi berbeda ketika pola asuh yan diberikan berbeda

d.      Perubahan
Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proporsional antara kepala, anggota badan, dan anggota gerak. Misalnya perbandingan antara besarnya kepala dengan anggota badan, semakin bertambah umur semakin bertambah besar. Sampai pada umur tertentu per andingan akan menetap, yakni pada usia akhir belasan tahun.
Perubahan secara proporsional juga terjadi pada perkembangan mental Perbandingan antara yang tidak nil, yang khayal dengan hal- hal yang rasional. semakin.lama semakin besar. Artinya anak-anak masih banyak mengkhayal dan sedikit terdapat realita pada mereka, tetapi semakin lama akan semakin berubah ke sebaliknya, yakni banyak realita dan sedikit berkhayal.
Dalam perkembangan sosial mereka juga sedikit demi sedikit berubah. Dan bermain sendiri, bermain dengan saudara, bermain dengan anak-anak tetangga, dan kemudian bermain dengan anak-anak lain pada lingkungan yang lebih luas.
e.       Kontinuitas Dan Diskontinuitas
Kontinuitas adalah perkembangan yang sifatnya kumulatif atau bertahap yang terjadi pada anak(simpulan berbagai sumber).Contohnya ketika anak belajar bahasa pertama dari orang tuanya mungkin pertama hanya bisa beberapa kata namun lama kelamaan akan menguasai banyak kosa kata. ^o^
Diskontinuitas adalah perubahan perilaku pada anak juga,namun waktunya relative singkat karene terjadi secara tiba-tiba.(Buku perpustakaan)
Diskontinuitas adalah perkembangan proses yang tidak berkesinambungan.(internet)
Kesimpulan : perubahan perilaku pada anak yang waktunya relative singkat karene terjadi secara tiba-tiba dan perkembangan proses itu tidak berkesinambungan.
B.     Fase – Fase Perkembangan
Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup panjang. Untuk tujuan pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya menggambarkan perkembangan dalam pengertian periode atau fase perkembangan.
Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan akhir anak anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa.
Perkiraan rata rata rentang usia menurut periode berikut ini memberi suatu gagasan umum kapan suatu periode mulai dan berakhir. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia:
1.      Periode prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.
2.      Masa bayi (infacy) ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
3.      Masa awal anak anak (early childhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
4.      Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
5.      Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
6.      Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
7.      Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.
8.      Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.
C.    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Faktor genetik
a.       Faktor keturunan — masa konsepsi
b.      Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
c.       Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen
d.      Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
Faktor eksternal / lingkungan
a.       Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan
b.      Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya 
D.    Karakteristik PPD Anak Usia SD
Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
 Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
E.     Tanggapan Tulisan ( Refleksi )
Sebagai buah suatu proses panjang, dunia pendidikan baik formal maupun non formal setidaknya harus dapat membuahkan hasil yang berupa sebuah generasi yang memiliki kemampuan sebagai berikut:
a.      Rasa menghargai keberadaan diri sendiri, Dalam bahasa agama "menghargai keberadaan dirinya sendiri" merupakan gerbang utama menuju rasa syukur dan terima kasih kepada sang Pencipta. Rasa syukur ini akan mengandung konsekuensi logis bahwa tangan, kaki, telinga, mata, hidung, lidah, rasa, jiwa hati dan pikiran adalah komponen hidup yang tdak selayaknya disia-siakan. Jika seandainya tangan tidak disiasiakan dan dilatih secara sungguh-sungguh dan teratur akan menjadi tangan yang terampil bahkan sangat mungkin menjadi tangan yang ahli. Keahlian tangan dari hasil latihan inilah yang merupakan manifestasi dari ajaran agama yang berbunyi "Barang siapa pandai menyukuri nikmatKu, maka akan Aku tambah nikmat itu dan barang siapa mengingkari nikmatKu maka niscaya adabKu teramat pedih". Adapun motivasi yang kuat akan mendorong untuk berbuat sesuatu, sedangkan percaya diri akan menumbuhkan suatu keyakinan bahwa kebedaraannya memang benar. Jika seseorang tidak mampu menghargai keberadaan dirinya sendiri mustahil dia dapat menghargai keberadaan sesuatu yang diluar dirinya sendiri.
b.      Rasa Percaya diri, dengan modal ini seseorang akan mampu mengeksresikan keinginan dan kemampuan yang telah dimiliki.
c.       Komunikasi, Bahasa yang selama ini merupakan alat berkomunikasi sering kali mengalami pengerdilan makna. Hal ini terjadi karena pemiliknya tidak mampu memanfaatkan sebagai alat negoisasi, diplomasi dan pengambilan keputusan, bahkan memahami bahasa pemikiran orang lait masih kesulitan.
d.      Kemampuan berpikir kritis (berpikir lateral dan problem solving), Dalam suatu proses berpikir yang terpenting adalah berpikir alternatif. Pada jaman dahulu banyak orang mengalami frustasi karena terpuruk pada suatu hal yang seakan semua jalan telah ditempuh dan tetap buntu. Pada jaman yang begitu sulit ini tentunya akan lebih terpuruk lagi jika landasan berfikir yang fleksibel (alternatif) tidak dapat dikuasai. Terus terang yang merupakan salah satu sebab munculnya krisi di negeri kita adalah karena sangat sedikitnya orang yang mampu fleksibel. Tentunya tidak dapat dielakkan lagi bahwa inipun produk dunia pendidikan.
e.       Jiwa kebersamaan, Akhir-akhir ini sangat sering muncul istilah KKN, ini merupakan penyakit sosial yang muncul dari pemahaman sempit terhadap rasa kebersamaan.
f.       Rasa dan jiwa bertanggung jawab, Tanggung jawab merupakan suatu nilai dasar yang harus dimiliki setiap mahluk yang bernama manusia, tetapi coba mari kita perhatikan apakah dunia pendidikan kita pernah mengusahakan suatu cara untuk mendidik agar bisa bertanggung jawab?
g.      Kepekaan dan komitmen sosial, Jika memang kita konsisten sebagai mahluk dengan derajat tertinggi tentunya tidak rela jika dalam kenyataan hidup dapat dikalahkan oleh komitmen sosial kaum lebah, rayap, dan semut. Tetapi manusia memang penuh potensi untuk menjadi positif maupun negatif, dengan demikian masih sangatlah diperlukan suatu proses pendidikan yang dapat mengasah kepekaan sosial.
h.      Pemahaman terhadap sistem politik dan budaya.
i.        Mampu berpikir ke depan (visi).
j.        Mampu berkreasi dan berimaginasi, dan
k.      Kemampuan melakukan refleksi dan evaluasi.
Dengan ini, pendidikan mempunyai out put yang berkualitas. Dan menghindari kesenjangan dari tiap lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, begitu juga bagi pendidikan anak – anak normal terhadap anak – anak penyandang cacat dan anak jalanan. Anak-anak normal juga tidak mendapat pendidikan pluralitas yang memadai. Bagaimana mereka bisa berempati dan bersimpati kepada penyandang cacat, jika mereka tidak pernah bergaul dengan kelompok ini karena hanya bergaul dengan sejenisnya di sekolah.




















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.    Kesimpulan dari berbagai sumber yang saya dapat bahwa pertumbuhan adalah perubahan dari keadaan tubuh atau fisik sebagai hasil dari pematangan fisik dari anak sehat yang diwujudkan dengan kegiatan aktif secara berkesinambungan.
2.    Sedangkan yang dimaksud perkembangan menurut Bijou dan Baer adalah perubahan progesif yang menunjukan cara anak bertingkah laku dengan lingkungan.Sedangkan menurut Libert,Paulus,Stauss perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai suatu fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Kesimpulannya adalah : Perubahan dari psikis yang menunjukkan cara anak bertingkah laku kepada lingkungan sekitar sebagai suatu fungsi kematangan fisik.
3.    Memang di dunia ini tak ada yang sempurna, tapi jalannya pertumbuhan dan perkembangan selalu mendekati kesempurnaan.




DAFTAR PUSTAKA
http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/memahami-hakikat-perkembangan-anak-didik/
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/20/karakteristik-perkembangan-anak-usia-kelas-awal-sd-serta-pembelajaran-tematik-keuntungan-penggunaan/
http://members.tripod.com/ninil_surabaya/newpage51.htm

0 komentar:

Poskan Komentar